Minggu, 05 Juni 2016

Kriteria Saum Ramadhan yang diterima




Bismillah. Alhamdulillah sudah memasuki lagi bulan Ramadlan dimana di bulan ini umat muslim diwajibkan untuk berpuasa. Bagiku di Puasa 1437H ini merupakan yang ke 19 kalinya. Sudah kah mendapatkan makna dari Ramadlan itu sendiri? Tulisan ini sebagai pengingat diri yang terkadang terabaikan.
Dalam sebuah buku karya ust. Nashruddin Syarief mengutipkan sebuah hadits dari beberapa kitab, yang berbunyi; “Jatuh ke tanah hidung seseorang. Masuk kepadanya bulan Ramadhan, lalu ia berlepas diri sebelum diampuni”
Sudah kah memahami petikan hadits tersebut? Saya jelaskan kurang lebih seperti ini, jatuh ke tanah hidung seseorang ini menggambarkan kondisi yang hina, sungguh amat terhina seseorang ketika masuk di bulan Ramadlan tapi tidak menjalankan ibadah / amal soleh di bulan tsb. Maka kondisinya amat terhina sedangkan dirinya belum diampuni Allah.
Alqur’an menjelaskan tentang Ramadlan ada 2 aspek yang perlu kita perhatikan; aspek syariat dan aspek hakikat. Shaum sebagai aturan hukum (syariat) bisa dilihat dalam Alqur’an (2/163-167); mengisyaratkan bahwa dilaksanakan puasa di bulan Ramadhan disesuaikan dengan waktu dan bilangan hari yang telah ditentukan. Aspek kedua (hakikat), hakikat utama dari shaum adalah mencapai derajat taqwa.
Agar shaum di bulan Ramadlan bisa bermakna Rasulullah mencontohkan beberapa amalan diantaranya; berderma, berinfak, bersodaquh, I’tikaf, tadarus Qur’an. Semua amalan ini mengantarkan umat muslim pada hakikat.
Ketika shaum hanya sebatas menahan diri dari makan dan minum, dan tidak merubah perilaku/sikap, itulah yang sia-sia. Shaum Ramadlan kali ini harus bisa menjadikan bulan penuh ampunan. Menerapkan aktivitas amal soleh kita sehingga bisa kembali pada fitri (kesucian).  Kriteria shaum Ramadhan yang diterima tidak mengabaikan aspek syariatnya dan hakikatnya. Mengisi kegiatan di bulan Ramadhan ini dengan tadarus, terawih, menuntut ilmu, berbuat baik kepada orang lain perbanyak sedekah. Dan tak lupa selalu berbakti pada orangtua ya.

Kamis, 02 Juni 2016

my Spirit part3



PEMUDA di warna warni Thalabul Ilmi

Sebuah buku catatan ringan untuk kamu… wahai pemuda. Manis nya thalabul ‘ilmi yang kurasa “terlalu mudah jika hanya untuk memulai thalabul ‘ilmi. Namun betapa sulitnya jika memutuskan ingin keluar dari lingkaran thalabul ‘ilmi”.
Ku memulai untuk belajar bersama teman-teman sejak usia 6 tahun saat itu, diawali dengan semangat baru, memakai pakaian baru, alat  tulis baru dan yang tak kalah penting adalah guru yang menyenangkan. Perasaan senang diawal sebagai kunci untuk belajar yang menyenangkan, layaknya dunia anak, meski masih banyak mainnya tapi tidak lupa disisipi belajar begitulah guru untuk anak-anak seharusnya.
Teringat dahulu belum bisa ngapangapain baca tulis ga bisa, namun berkat tekad semangat yang kuat untuk terus belajar sehingga saya bisa mengejar ketertinggalan. Almarhum babeh yang udah ngajarin baca tulis sampe ngitung perkalian yang tak kenal letih membimbing. Adapun mama ku saat itu posisinya sebagai supporter.
Setelah menikmati bangku pendidikan selama 16 tahun, kini ku dapat mempertanyakan pada diriku ini tentang keberkahan sebuah ilmu, alangkah tidak berkahnya jika mendapat ilmu tidak dapat ditularkan atau diajarkan kepada yang lainnya. Sehingga sungguh mulia lah menjadi seorang guru mendapat ilmu dan bisa mengajarkannya kembali. Satu hal yang tak boleh pernah putus yakni belajar ilmu agama. masihkah ada semangat menuntut ilmu di jiwamu? Menuntut ilmu agama pastinya.
Engkau begitu cerdas. Daripada mengahafal rumus matematika, kimia, fisika, apakah tidak sebaiknya engkau menghafal ayat-ayat suci AlQur’an? Dan alangkah lebih baiknya sebelum terlambat. Engkau sungguh pintar, daripada menghafal nama-nama latin tumbuhan lengkap dengan ordo familinya, apakah tidak sebaiknya engkau mengahafal hadits lengkap dengan sanadnya? Hadits pun saya baru baru mengenalnya. Engkau benar-benar pandai daripada menghafal kosakata Bahasa Inggris dan rumu-rumus tenses, apakah tidak sebaiknya engkau mengahafal Bahasa Arab lengkap dengan tata Bahasa Arab sehingga engkau ahli nahwu saraf? Semua pertanyaan itu menjadi cambuk bagi diriku sendiri.
Aku berusaha menjadi baik bukan berarti aku luput dari dosa. 12 tahun mengenyam pendidikan sekuler bagaimana tidak? Pendidikan yang justru nilai agama yang sedikit sekali malah lebih di doktrin pada teori-teori barat dan itu pada akhirnya tidak dipakai dalam kehidupan nyata sehari-hari kita. Sedih rasanya jika kita masih belum tersadar, bahwa diri kita saat ini apakah lebih memilih tetap menutup telinga tentang agama, padahal dalam KTP mengaku Islam. Jelas-jelas Islam tidak memisahkan dengan aspek kehidupan justru kehidupan seorang muslim diliputi dengan aturan Islam mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi.
Semoga hal ini tidak terjadi pada diriku dan dirimu, yakni; “cahaya ilmu di wajahmu telah tertukar dengan gelapnya dosa, sujud dan ruku telah berubah menjadi langkah-langkah cela, do’a dan dzikir telah berganti dengan nada dan lagu. Naudzu billahi min dzalik.”
Tentang indah dan  manisnya thalabul ‘ilmi, dalam hitungan pendek dari kehidupan yang telah dilalui tidak ada kenangan seindah hari-hari thalabul ilmi, meski tiap pagi harus mandi, sarapan pagi, berangkat pagi. Adapun kamu yang susah bangun terpaksa harus dibangunkan dengan sedikit percikan air sehingga terperanjat dari tempat tidur. Itu semua hanya untuk menegakan tholabul ilmi. Bagiku sungguh menyenangkan dan membahagiakan, serasa benar-benar sedang berada di taman surga. Terlebih ketika kita tidak dihadapkan persoalan biaya. Rasanya tidak mau beralih dunia saya tetap ingin di jalan tholabul ilmi ini. Namun apa yang saya hadapi jauh dari yang saya harapkan.
Pendidikan tidak terlepas dari biaya. Tapi Alhamdulillah Allah mudahkan segala urusannya, selalu ada jalan untukku bagiku yang selalu berusaha. Segala apapun yang saya upayakan demi bisa tetap bertholabul ilmi, berbeda dengan dunia setelah itu. Masalah bukan berhenti, tetapi malah bertubi-tubi. Tapi itulah indahnya kehidupan. Qanaah dan bersabar, sholat dan sabar sebagai pegangan kuncinya selalu saya pegang erat-erat. Meski pada akhirnya bukan otomatis masalah itu hilang, tetapi setidaknya kita menyadari bahwa jangan sampai kita tertipu pada permasalahan dunia saat ini. Bukankah ada kehidupan yang lebih kekal setelah ini? Biarlah., yang penting selalu ada Allah dalam hati kita.
Aku orangnya memang jarang curhat karena sebelumnya pernah dikecewain sama orang yang aku ajak curhat dia tidak bisa memegang rahasia, sehingga pada akhirnya, saya pikir dengan curhat kepada orang lain hanya buang-buang waktu dan masalah pun tidak lekas menjadi hilang. Maka kuputuskan hanya curhat padaMu.
Tentang pemuda, seperempat abad usiaku telah kujalani. Al-Imam Ibnu Jauzi menyebutkan tentang pengertian pemuda; bahwa umur manusia dibagi menjadi 5 fase;
1.       Sejak hari kelahiran sampai usia baligh, berlangsung selama 15 tahun.
2.       Sejak usia baligh sampai akhir masa muda 35tahun. Fase yang disebut masa muda (as syabab)
3.       Dari akhir fase masa muda sampai 50 tahun dinamakan fase al kuhulah.
4.       Dari masa kuhulah sampai 70 tahun disebut as syaikukhan.
5.       Dari usia 70 tahun sampai tutup usia disebut fase alharim.
Pemuda masa nya berkarya, masanya menghadapi hawa nafsu dan syahwat terbesar. Menghiasi masa muda dengan tholabul ‘ilmi harus sudah menjadi kebutuhan. Jangan sampai menyesal! Sekarang, coba tanyakan kepada orang tua betapa pahit dan berat melalui masa-masa tua tanpa ilmu agama. Al-Amasy berkata; “jika engkau melihat orang tua tidak bisa membaca ALQur’an dan tidak dapat menulis hadits. Maka tamparlah dia! Sebab orang itu termasuk syuyukhul Qamara” . [1]Apa syuyukhul Qamara itu? Abu Ja’far Rohimahullah menjelaskan; “Mereka adalah orang2 tua yang menghabiskan waktunya dengan kumpul-kumpul dibawah sinar bulan ngobrol tentang hari-hari manusia tidak ada satu pun dari mereka ada yang wudu dengan baik untuk solat”. Dahulu Imam Syafi’I jika melihat orang tua bisa menjawab hadits dan fiqih. Beliau hanya diam saja. Jika ada orang tua yang ketika ditanya soal hadis dan fiqih tidak bisa menjawab. Beliau berkata; “Semoga Allah tidak memberikan balasan kebaikan kepada dirimu! Dari dirimu dan Islam. Sungguh engkau telah mensia-siakan dirimu dan Islam”   
#TetapSemangatMenuntutIlmu #BerkaryaLebihBaik
Write: Sya’ban 1437H


[1] Abu Nasim Muchtar, Pemuda di warna-warni Tholabul Ilmi

Selasa, 31 Mei 2016

Adzan yang Menggemparkan



Bilal Ibn Rabah AlHabashi

Mereka berkata; “satu-satunya orang yang tidak dapat mereka kalahkan adalah Bilal”. Mengapa? Karena Bilal mematahkan mereka. Setiap kali mereka berkata; “Berimanlah kepada Lata dan Uzza” Bilal mengatakan: “Lidahku tidak bisa mengatakannya” Dan dia mengucapkan “ahad, ahad, ahad” dan semua penyiksaan,.. dan Rasulullah SAW melihat semua penyiksaan ini. Pada suatu hari dia pergi mengunjungi sahabat RA, “Apakah tidak ada yang dapat membeli Bilal dan membebaskannya?”
Lihatlah penyiksaan yang harus dia lalui, dan Abu Bakar RA, adalah Abu Bakar. Dia pergi kepada Umayyah bin Khalf. Dan dia berkata kepada Umayyah bin Khalf. “Juallah Bilal kepadaku”.  Dan Umayyah bin Khalf berkata; “Aku akan menjualnya kepadamu karena kau adalah orang pertama yang mempengaruhinya”. Jadi Abu Bakar berkata; “Kau ingin menjualnya dengan harga berapa?” dan dia berkata: “aku akan menjualnya dengan 10 koin emas.” Dan Abu Bakar pulang ke rumah, dan dia kembali dengan membawa 10 koin emas dan memberikannya kepada umayyah. Dan Umayyah mulai tertawa. Dan Abu Bakar R.A, berkata; “Wahai Umayyah kenapa kau tertawa?”
Dan Umayyah berkata; “Wahai Abu Bakar aku bersumpah demi Allah jika kau menawar harganya dan menawarkanku dengan 1 koin emas aku akan menjualnya” dan Abu Bakar RA menatap Umayyah dan berkata; “Wahai Umayyah Aku bersumpah demi Allah jika kau menawarku untuk memberikan 100 koin emas untuk Bilal maka akan kuberikan 100 koin emas untukmu”.
 Abu Bakar membelinya dan membebaskannya. Dan apa yang dikatakan Abu Bakar tentang Bilal? Dia berkata; Bilal Sayyidina (Bilal adalah tuanku). Abu Bakar RA adalah orang paling besar setelah pena anbiyya yang pernah berjalan dimuka bumi ini dan dia berkata Bialal adalah tuanku.
Umar bin Khattab berkata; “Abu Bakar RA adalah tuan kita dan dia membebaskan tuan kita” dia membebaskan tuan kita Bilal. Kemudian datanglah perang Badr. Dan Umayyah Bin Khalaf tidak mau berpartisipasi dalam perang ini. Tidak sama sekali. Dan orang musyrikin lainnya. Uqbah bin Mu’ith menghampiri Umayyah dan melempari dengan batu bara. Dia berkata; “Pulanglah ke rumah dan memasaklah seperti wanita karena kau tidak akan pergi ke medan perang”. Dan Umayyah berkata; “Semoga Allah merusak wajahmu”!
Ini sama saja seperti mengatakan; “pulanglah dan kenakan rok” dan Umayyah berkata; “Semoga Allah merusak wajahmu!”, Umayyah pun dipaksa pergi ke medan perang. Dan Umayyah pergi ke medan perang. Dan di setiap perang umat Islam punya slogan di setiap perang.
Apakah kalian tau slogan apa?  Ahad, Ahad (satu, Allah. Satu, Allah). Hal ini mengejutkan Umayyah, dan setelah perang Umayyah ditawan dan Bilal RA. Melihatnya. Dan Bilal berkata: “Oh Umayyah, akarnya kekufuran, aku akan tinggal jika dia tinggal. Entah apakah dia yang pergi atau aku saja yang pergi”. Dan Bilal melangkah dan mendorong Abdurrahman bin Auf. Kemudian dia menusuk dan membunuhnya. Dan ketika dia membunuhnya, apa yang dia ucapkan (Ahad, satu. Ahad, satu)
Ketika Rasulullah Saw diakhir hayatnya riwayatnya mengatakan bahwa Bilal RA sedang melakukan adzan. Kemudian dia akan memanggil Rasulullah Saw, dan Rasulullah belum keluar, lalu bilal memanggil; “Rasulullah SAW”. Dan dia melihat Rasulullah Saw, terkadang sadar dan pingsan. Dan Bilal berkata;”benar-benar suatu duka”. Dia berkata; “Aku berharap ibuku tidak pernah melahirkanku, sehingga aku tidak perlu melihat hari ini”. Atau aku lebih baik Mati sebelum hari ini tiba. Kemudian Bilal melakukan adzan dan dia menjadi tak sadarkan diri.
Dan ketika Rasulullah Saw meninggal dunia, riwayatnya menyebutkan bahwa jenazah beliau belum dikuburkan. Dan Bilal mengumandangkan adzan, “ketika dia sampai kepada Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah” biasanya ketika dia sampai pada kalimat ini, Rasulullah Saw keluar dari rumahnya menuju ke masjid. Tapi sekarang ketika dia melihat, tidak ada lagi Rasulullah Saw. Dan riwayatnya mengatakan, bahwa Bilal mulai tersedak, dan dia mulai menangis, dan orang-orang disekitarnya mulai menangis.
Dan untuk 3 hari berikutnya, Bilal mencoba untuk mengumandangkan adzan, setiap kali dia sampai kepada “Asyhadu anna Muhammadarr Rasulullah” dia mulai tersedak, kemudian dia pergi ke Abu Bakar. “Wahai Abu Bakar…” karena dia tidak bisa berada di Medinah tanpa Rasulullah Saw. Dan dia berkata; “Wahai Abu Bakar izinkan aku untuk pergi karena aku mendengar Rasulullah Saw menyebutkan keutamaan berjihad, aku ingin berjihad”. Dan Abu bakar berkata; “Janganlah oh.. Bilal kau tetaplah bersamaku aku membutuhkanmu ” .
Dan Bialal RA berkata;”Jika kau membebaskanku untuk dirimu sendiri, maka aku akan tetap disini, tapi jika kau membebaskanku semata-mata karena Allah maka aku akan pergi”. Dan Abu Bakar RA, mengizinkannya untuk pergi, dan Bilal pergi berjihad. Dan pada suatu malam Bilal tertidur, dia bermimpi, dan dalam mimpi itu dia melihat Rasulullah Saw. Dan Rasulullah Saw bersabda; “Wahai Bialal kenapa kau tidak pernah mengunjungi kami?” dan dia terbangun menuju Medinah dengan terburu-buru. Dan ketika dia sampai di Medinah dia berbaring di Makam Rasulullah Saw, mengingatnya. Kemudian Hasan dan Hussein dating. Mereka berkata: “Wahai Bilal beradzanlah!”
Ini adalah permintaan cucu Rasulullah Saw, dan Bilal bangun, dan dia mengumandangkan adzan, “Allahu Akbar,, Allahu Akbar”. Dan riwayatnya menyebutkan bahwa; Medinah bergejolak, karena Bialal membawa kenangan sewaktu Rasulullah Saw masih hidup. Diriwayatkan bahwa pria dan wanita keluar dari rumah mereka, merobek baju mereka dan menjambak rambut mereka sendiri. Karena hal ini mengingatkan mereka sewaktu Rasulullah Saw masih hidup.
Kemudian Bialal mencoba untuk tetap tinggal di Medinah, tapi ini berat baginya. Karena kemanapun dia melihat ke segala penjuru, hal ini mengingatkannya kepada Rasulullah Saw. Dan dia tidak dapat menahan beratnya tinggal di Medinah, jadi dia pergi.
Kemudian datanglah waktu penaklukan Mesjidil Aqsa. Dan penjaga AlAqsa mengatakan; “Aku hanya akan memberikan kuncinya kepada Umar Bin Khatab” dan Umar Ra bepergian dari Medinah ke Mesjidil Aqsa. Dan semua sahabat ada disana, Khalid bin Walid, Muadz bin Jabal. Kemudian mereka menghampiri Umar dan berkata; “Wahai Umar mintalah Bilal untuk Adzan”.
Dan Umar meminta Bialal untuk adzan, dan dalam riwayatnya menyebutkan bahwa sampai kepada Asyhadu Anna Muhammadarr Rasulullah,. Jenggot para sahabat berwarna hitam namun pas masuk berwarna kelabu karena dibanjiri air mata. Tidak ada satu pun jenggot sahabat yang tidak dibanjiri air mata. Mereka sampai minta nasihat kepada Umar Bin Khatab. Karena hal ini mengingatkan mereka ketika masih menemani Rasulullah Saw.
Dan inilah keutamaan menakjubkan dari Bilal karena dia mengumandangkan adzan.  Di tanah Haram di Mekah, dan masjid Rasulullah Saw, dan juga mesjidil Aqsa ketiga tempat paling suci. Kemudian ketika Bilal menjelang saat-saat kematiannya, dalam riwayatnya menyebutkan bahwa dia meninggal di Damaskus, dan istrinya berkata; “benar-benar suatu duka, benar-benar kesedihan”, dan Bialal berkata:”tidak! Katakanlah benar-benar kebahagiaan”. Dia berkata; “besok, aku akan menemui Rasulullah Saw dan para sahabat.”
Dapatkah kalian bayangkan, dapatkah kalian benar-benar bayangkan sberapa besar imannya? Waallahi kau sedang sekarat kau sebentar lagi meninggalkan dunia ini, karena kau akan bertemu Rasulullah Saw.
Ketika Rasulullah Saw bersabda; “Dunia ini penjara bagi orang-orang beriman dan surge bagi orang-orang kafir”. Para ulama menulis; “kenapa dunia menjadi penjara bagi orang-orang berIman? Karena dunia menahan mereka bertemu Allah dan Rasul-Nya” dunia penjara adalah karena menghentikanmu bertemu Allah dan Rasul Nya. Dan dapatkah kalian bayangkan keadaannya, bahwa kau sedang sekarat, tapi kau senang disaat kau sekarat. Karena kau akan bertemu dengan Rasulullah Saw.

Sumber; Quran Recitation Channel
write; Sya'ban 1437 H
Speaker: Syeikh Zahir Mahmood

Senin, 30 Mei 2016

my Spirit will never die



Untukmu dan Untukku

Allah swt jadikan manusia berbeda-beda dan saling bertentangan satu sama lain, akan kita temui barisan-barisan yang memusuhi dakwah ini yang memusuhi yang haq dari zaman ke zaman. Allah selalu jadikan mereka sebagai pencambuk, pemacu adrenalin para kaum muslimin para penyeru yang haq. Sehingga tampaklah diantara kaum muslim mana diantara mereka yang mau berjuang demi tauahid. Mana diantara mereka yang mau mengajarkan kemurnian ajaran Sunnah Rasulnya SAW. Mana diantara mereka yang hanya peduli dunia dan nikmat-nikmatnya yang terus membuat terlena.
Lalu bagaimana cara menyelesaikannya? Jangan kau bahas penyakitnya, tapi kau bahas antibodimu. Jangan kau bahas tentang aliran-aliran sesat, tapi kenali aqidahmu. Kenali manhajmu, kenali agamamu, kenali ajaran Rasulmu. Aib atas mu ketika lebih mengenal Bahasa kafir daripada Bahasa yang Allah turunkan itu kitabNya. Aib atasmu ketika kau mengeluarkan puluhan, ratusan juta untuk ilmu duniawi. Adapun untuk ilmu agama kau keluarkan sesuatu yang demi Allah tak pantas bentuk pengorbananmu bentuk kepedulianmu, kepada agamamu. Aib atasmu ketika kau lebih mengenal peringatan-peringatan, tokoh-tokoh kafir, anak-anak kita lebih mengenal para pemain bola kafir. Ketika ditanya siapa nama Abu Hurairah aslinya? Siapa nama Abu Bakar aslinya? Mereka tak mengenalnya. Aib atasmu.
Apakah kamu akan mengeluh kepada syiah yang terus membantai kaum muslimin di negeri-negeri muslimin, akan memohon kepada zionis tolong jangan bunuhi kami lagi? Apakah itu yang akan kau lakukan? Mana izzahmu sebagai kaum muslimin? Ketahuilah umat kita umat Hamazah, umat yang hanya mengenal padang pasir, batu barber, diantara mereka ada yang memakan biawak untuk bertahan hidup. Menjadi umat yang menggetarkan dunia. Menakutkan kutub-kutub kekuatan bumi. Menjatuhkan Romawi dan Persia, dengan apa. Dengan tauhid.
Perang Badr 300 lawan 1000. Namun kita dapat menang, kalian fikir mengalahkannya dengan pedang? Dengan tauhid. 30000 kaum muslimin di perang Yarmuk melawan 250000 Romawi kita dapat mengalahkannya.  Dengan apa? Dengan tauhid. Apa kau fikir kita mengalahkan mereka dengan pedang? Dengan tauhid. Ketika tauhid rububiyyah betul-betul kau kenali dan tertancap dalam jiwamu maka tak lain kau melihat makhluk, hanyalah makhluk diantara makhluk Allah. Sekaya apapun dia, sebesar apapun kekuatan dia, hanyalah makhluk Allah yang Maha Kuasa, yang Mengatur alam semesta. Dengan mudah Allah akan menghancurkannya Bismillah.
Sehingga ketika kesesatan apapun menyerangmu kau telah memiliki kekebalan tubuh yang baik. Perbaiki aqidahmu. Perbaiki tauhidmu. Musuh Islam akan selalu ada dan tak kan pernah berhenti muncul.

Sumber: SurauTV
Write; Sya’ban 1437H