Selasa, 14 Juni 2016

KISAH 2




Kajian Istiqomah 2 Ramadhan
Selasa, 07 Juni 2016
Sebuah judul besar yang akan diambil dari kajian ini yaitu “Maka Kemanakah kamu akan pergi?” (Attaqwir: 26)
Kembali kepada Allah (Almaidah:105)
“Biarlah bumi yang menceritakan kebaikan-kebaikan yang telah kau torehkan”. Allah akan menceritakan segala hal yang ada di muka bumi.
Karena awal sesuatu adalah awal untuk lainnya. Karena akhir sesuatu adalah akhir untuk lainnya. Karena hidup sesuatu adalah hidup untuk lainnya.
Yang mengelilingi kita ketika kita meninggal adalah, keluarga. Teman dan kerabat. Kembali jasadnya; hartanya. Kebaikan akan dikenang ketika kita sudah tidak ada.

KISAH 6





Menyiapkan Generasi Soleh
Ustadzah Devi melontarkan sebuah pertanyaan ke Jemaah, “Bapak/ibu mau anaknya pintar, cerdas atau soleh?” ibu-ibu pun menjawab anak sholeh bun. Kemudian pertanyaan sama kepada bapak-bapak, “Bapak-bapak mau anaknya pintar, cerdas atau soleh?” bapak-bapak menjawab anak soleh bun.
Kemudian beliau menceritakan dalam sebuah majlis Rasulullah dan sahabat terjadilah sebuah perbincangan dengan adanya pertanyaan. “Aku ingin menjadi manusia pintar ya Rasul?” Apa jawaban Rasul? Rasul menjawab: “Tingkatkan nilai ketaqwaan kepada Allah swt”.
Secara logika apa hubungannya taqwa dengan cerdas. Sebagai gambarannya Rasulullah sebagai tauladan kita. Rasul tidak sekolah kedokteran tapi dia paham kesehatan. Selama hidup Rasul jarang sakit, bisa dibilang tidak pernah sakit kecuali waktu di racun oleh wanita Yahudi dan sebelum beliau wafat. Rasul tidak sekolah sampai perguruan tinggi, tapi beliau jago ekonomi terbukti beliau jago perhitungan dalam dagang. Rasul bukan lulusan geografi tapi beliau bisa menentukan hilal, kiblat dan waktu sholat. Rasul yang dulu ummi, tapi bisa menyampaikan Risalah/wahyu dari Allah. Kata kunci yang beliau pegang adalah taqwa. Rasulullah sangat taqwa kepada Allah meski sudah dijamin surga untuknya namun beliau tetap rajin beribadah.
 Taqwa sendiri dapat diartikan sebagai takut. Takut kepada Allah bukan harus menghindar tapi harus mendekat. Taqwa juga bisa diartikan sebagai cinta. Cinta adalah suatu misteri tapi bisa memberikan energy. Adapun syarat-syarat cinta diantaranya; 1. Care yaitu peduli, jangan mengaku cinta kalau tidak peduli. 2. Responsibility yaitu tanggung jawab, bentuk tanggung jawab kita terhadap Allah yakni kelak bisa mempertanggungjawabkan semua amalan yang telah dilakukan, 3. Knowledge yakni mengetahui, dengan mengetahui sifat-sifatnya dan segala hal tentangNya, 4. Syukur, selalu bersyukur apa yang telah diberikanNya.
Kenapa harus mendidik anak soleh? Karena anak soleh kelak yang akan menjadi amal jariyah. Anak soleh sebagai bekal diakhirat yang akan mengantarkan orangtua ke surgaNya. Pertanyakan kepada anak kita apakah mereka sudah bisa menyolatkan jenazah, apakah mereka sudah hapal doa mayit laki-laki ato perempuan. Apalah arti sekolah jauh-jauh ke luar negri menempuh pendidikan tingga sampai S3 sekalipun kalau tidak bisa menyolatkan jenazah bahkan tidak hapal doa orang meninggal. Karena jangan dipungkiri bahwa masa depan setiap yang hidup adalah kematian.
Sehingga ketika anak-anak kita soleh, sudah siap memandikan orang tua, jika orang tua yang meninggal duluan pertama kali yang memandikan adalah anak kita bukan orang lain. Begitu pun ketika menyolatkan yang menjadi imam dari beberapa Jemaah yang hadir adalah anak kita yang menjadi imamnya. Doa anak yang soleh akan terus mengalir kepada orang tuanya. Oleh sebab itu orang tua perlu mendidik anak yang diutamakan adalah imtak nya (iman dan taqwa) nya. Baru kemudian iptek (ilmu pengetahuan teknologi).  
Jika orang tua sudah berusaha mendidik anak-anaknya menjadi anak soleh. Lantas bagaimana selaku anak untuk membalas kebaikan kepada orang tua?
Pertanyaan terakhir, apa yang sudah aku dan kamu persiapkan untuk memuliakan orang tua?
Hidup tidak seperti apa yang kita inginkan tapi hidup apa yang kita perjuangkan.
Fi sabilillahi bil haq. Wassalam.
10 Ramadhan 1437H

Senin, 06 Juni 2016

KISAH RAMADHAN



 KajIan iStiqomAH Ramadhan part 1

Senin, 06 Juni 2016
Allah menciptakan manusia organ yang dahulu terbentuk yakni pendengaran. Kenapa bisa ada hubungan antara pendengaran dan otak? Karena pendengaran menstimulus rangsangan ke bagian otak. Setiap insan awalnya tidak ada. Begitu pula aku, siapakah aku 30 tahun yang lalu? Pasti tidak tahu jawabannya orang saya aja belum lahir, artinya ini tidak ada. I’m nothing.
Kemudian Allah menciptakan Adam dan Hawa. Adam dari tanah dan Hawa dari tulang rusuk. Setelah keduanya di bumi dan beranak-pinak. Generasi selanjutnya berasal dari setetes air hina yang disebut mani. Lantas apa yang harus disombongkan dari diri ini?
Coba kita buka QS. Al Insan: 1-3;  1. bukankah pernah datang kepada manusia waktu dari masa yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat kau sebut? Artinya ini adalah suatu masa yang tidak ada apa-apa sebelum kita terlahir. 2. Sungguh kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur. Yang kami hendak mengujinya dengan (perintah dan larangan)karena itu kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sehingga terbukti bahwa organ tubuh manusia yang pertama kali terbentuk selama kehamilan adalah telinga dan mata.  3. Sungguh kami telah menunjukkan kepadanya jalan lurus, ada yang bersyukur ada yang kufur.
Setelah kita mentadaburi kalam diatas selanjutnya kita lihat Q.S; Mulk : 23: Katakanlah; Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan kamu pendengaran, penglihatan dan hati nurani bagi kamu (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur. Sehingga banyak dari kita yang lalai, maka nikmat manakah yang kamu dustakan. Selanjutnya ada hubungan dengan QS. Annaziat; 41, maka Sungguh Surga lah tempat tinggalnya, yakni bagi orang yang bersyukur dan mentaati perintah Allah. Dalam QS.As-syuaro; 83, (Ibrahim berdo’a) Ya Tuhanku berikanlah aku ilmu dan masukanlah aku kedalam golongan orang-orang saleh. Pada ayat ini terdapat 2 istilah kata Ilman dan hukman, keduanya sama-sama berpengetahuan. Ilmu berarti mengetahui, sedangkan hukman berarti mengetahui dan sudah diamalkan. Ibrahim memohon kepada Allah dengan kata hukman, artinya supaya diberikan pengetahuan yang diamalkan.
Selanjutnya QS. Abasa; 33, maka apabila datang suara yang memekakan (tiupan sangkakala yang kedua), kalam Allah menyebutkan bahwa adanya hari kebangkitan disinilah ada hal-hal yang tidak logis. Namun sebagai orang beriman harus bisa mengimaninya. Dihubungkan dengan QS  AlFajr; 27, wahai jiwa yang tenang, artinya orang-orang yang mensucikan jiwanya melatih diri untuk selalu berbuat kebaikan. Lantas siapakah mereka itu? Dijawab dalam  QS Annisa; 69, dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul maka orang itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.QS ArRad; 23, (yaitu) surga-surga And yang mereka masuk kedalamnya bersama dengan orang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya, anak cucunya sedang para malaikat masuk dari semua pintu.
Sebagai kesimpulan tunggu apalagi di Bulan Ramadhan ini untuk menebar kebaikan. Semoga dengan adanya bulan Ramadhan ini sebagai ajang pensucian jiwa kita, pembiasaan menuju arah yang lebih baik, hingga pada akhirnya kita termasuk golongan orang-orang yang berjiwa tenang, yang selalu mensucikan dirinya dengan amalan kebaikan (amal soleh) sehingga surga menanti kita.
Wallahu’alam

Minggu, 05 Juni 2016

Kriteria Saum Ramadhan yang diterima




Bismillah. Alhamdulillah sudah memasuki lagi bulan Ramadlan dimana di bulan ini umat muslim diwajibkan untuk berpuasa. Bagiku di Puasa 1437H ini merupakan yang ke 19 kalinya. Sudah kah mendapatkan makna dari Ramadlan itu sendiri? Tulisan ini sebagai pengingat diri yang terkadang terabaikan.
Dalam sebuah buku karya ust. Nashruddin Syarief mengutipkan sebuah hadits dari beberapa kitab, yang berbunyi; “Jatuh ke tanah hidung seseorang. Masuk kepadanya bulan Ramadhan, lalu ia berlepas diri sebelum diampuni”
Sudah kah memahami petikan hadits tersebut? Saya jelaskan kurang lebih seperti ini, jatuh ke tanah hidung seseorang ini menggambarkan kondisi yang hina, sungguh amat terhina seseorang ketika masuk di bulan Ramadlan tapi tidak menjalankan ibadah / amal soleh di bulan tsb. Maka kondisinya amat terhina sedangkan dirinya belum diampuni Allah.
Alqur’an menjelaskan tentang Ramadlan ada 2 aspek yang perlu kita perhatikan; aspek syariat dan aspek hakikat. Shaum sebagai aturan hukum (syariat) bisa dilihat dalam Alqur’an (2/163-167); mengisyaratkan bahwa dilaksanakan puasa di bulan Ramadhan disesuaikan dengan waktu dan bilangan hari yang telah ditentukan. Aspek kedua (hakikat), hakikat utama dari shaum adalah mencapai derajat taqwa.
Agar shaum di bulan Ramadlan bisa bermakna Rasulullah mencontohkan beberapa amalan diantaranya; berderma, berinfak, bersodaquh, I’tikaf, tadarus Qur’an. Semua amalan ini mengantarkan umat muslim pada hakikat.
Ketika shaum hanya sebatas menahan diri dari makan dan minum, dan tidak merubah perilaku/sikap, itulah yang sia-sia. Shaum Ramadlan kali ini harus bisa menjadikan bulan penuh ampunan. Menerapkan aktivitas amal soleh kita sehingga bisa kembali pada fitri (kesucian).  Kriteria shaum Ramadhan yang diterima tidak mengabaikan aspek syariatnya dan hakikatnya. Mengisi kegiatan di bulan Ramadhan ini dengan tadarus, terawih, menuntut ilmu, berbuat baik kepada orang lain perbanyak sedekah. Dan tak lupa selalu berbakti pada orangtua ya.

Kamis, 02 Juni 2016

my Spirit part3



PEMUDA di warna warni Thalabul Ilmi

Sebuah buku catatan ringan untuk kamu… wahai pemuda. Manis nya thalabul ‘ilmi yang kurasa “terlalu mudah jika hanya untuk memulai thalabul ‘ilmi. Namun betapa sulitnya jika memutuskan ingin keluar dari lingkaran thalabul ‘ilmi”.
Ku memulai untuk belajar bersama teman-teman sejak usia 6 tahun saat itu, diawali dengan semangat baru, memakai pakaian baru, alat  tulis baru dan yang tak kalah penting adalah guru yang menyenangkan. Perasaan senang diawal sebagai kunci untuk belajar yang menyenangkan, layaknya dunia anak, meski masih banyak mainnya tapi tidak lupa disisipi belajar begitulah guru untuk anak-anak seharusnya.
Teringat dahulu belum bisa ngapangapain baca tulis ga bisa, namun berkat tekad semangat yang kuat untuk terus belajar sehingga saya bisa mengejar ketertinggalan. Almarhum babeh yang udah ngajarin baca tulis sampe ngitung perkalian yang tak kenal letih membimbing. Adapun mama ku saat itu posisinya sebagai supporter.
Setelah menikmati bangku pendidikan selama 16 tahun, kini ku dapat mempertanyakan pada diriku ini tentang keberkahan sebuah ilmu, alangkah tidak berkahnya jika mendapat ilmu tidak dapat ditularkan atau diajarkan kepada yang lainnya. Sehingga sungguh mulia lah menjadi seorang guru mendapat ilmu dan bisa mengajarkannya kembali. Satu hal yang tak boleh pernah putus yakni belajar ilmu agama. masihkah ada semangat menuntut ilmu di jiwamu? Menuntut ilmu agama pastinya.
Engkau begitu cerdas. Daripada mengahafal rumus matematika, kimia, fisika, apakah tidak sebaiknya engkau menghafal ayat-ayat suci AlQur’an? Dan alangkah lebih baiknya sebelum terlambat. Engkau sungguh pintar, daripada menghafal nama-nama latin tumbuhan lengkap dengan ordo familinya, apakah tidak sebaiknya engkau mengahafal hadits lengkap dengan sanadnya? Hadits pun saya baru baru mengenalnya. Engkau benar-benar pandai daripada menghafal kosakata Bahasa Inggris dan rumu-rumus tenses, apakah tidak sebaiknya engkau mengahafal Bahasa Arab lengkap dengan tata Bahasa Arab sehingga engkau ahli nahwu saraf? Semua pertanyaan itu menjadi cambuk bagi diriku sendiri.
Aku berusaha menjadi baik bukan berarti aku luput dari dosa. 12 tahun mengenyam pendidikan sekuler bagaimana tidak? Pendidikan yang justru nilai agama yang sedikit sekali malah lebih di doktrin pada teori-teori barat dan itu pada akhirnya tidak dipakai dalam kehidupan nyata sehari-hari kita. Sedih rasanya jika kita masih belum tersadar, bahwa diri kita saat ini apakah lebih memilih tetap menutup telinga tentang agama, padahal dalam KTP mengaku Islam. Jelas-jelas Islam tidak memisahkan dengan aspek kehidupan justru kehidupan seorang muslim diliputi dengan aturan Islam mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi.
Semoga hal ini tidak terjadi pada diriku dan dirimu, yakni; “cahaya ilmu di wajahmu telah tertukar dengan gelapnya dosa, sujud dan ruku telah berubah menjadi langkah-langkah cela, do’a dan dzikir telah berganti dengan nada dan lagu. Naudzu billahi min dzalik.”
Tentang indah dan  manisnya thalabul ‘ilmi, dalam hitungan pendek dari kehidupan yang telah dilalui tidak ada kenangan seindah hari-hari thalabul ilmi, meski tiap pagi harus mandi, sarapan pagi, berangkat pagi. Adapun kamu yang susah bangun terpaksa harus dibangunkan dengan sedikit percikan air sehingga terperanjat dari tempat tidur. Itu semua hanya untuk menegakan tholabul ilmi. Bagiku sungguh menyenangkan dan membahagiakan, serasa benar-benar sedang berada di taman surga. Terlebih ketika kita tidak dihadapkan persoalan biaya. Rasanya tidak mau beralih dunia saya tetap ingin di jalan tholabul ilmi ini. Namun apa yang saya hadapi jauh dari yang saya harapkan.
Pendidikan tidak terlepas dari biaya. Tapi Alhamdulillah Allah mudahkan segala urusannya, selalu ada jalan untukku bagiku yang selalu berusaha. Segala apapun yang saya upayakan demi bisa tetap bertholabul ilmi, berbeda dengan dunia setelah itu. Masalah bukan berhenti, tetapi malah bertubi-tubi. Tapi itulah indahnya kehidupan. Qanaah dan bersabar, sholat dan sabar sebagai pegangan kuncinya selalu saya pegang erat-erat. Meski pada akhirnya bukan otomatis masalah itu hilang, tetapi setidaknya kita menyadari bahwa jangan sampai kita tertipu pada permasalahan dunia saat ini. Bukankah ada kehidupan yang lebih kekal setelah ini? Biarlah., yang penting selalu ada Allah dalam hati kita.
Aku orangnya memang jarang curhat karena sebelumnya pernah dikecewain sama orang yang aku ajak curhat dia tidak bisa memegang rahasia, sehingga pada akhirnya, saya pikir dengan curhat kepada orang lain hanya buang-buang waktu dan masalah pun tidak lekas menjadi hilang. Maka kuputuskan hanya curhat padaMu.
Tentang pemuda, seperempat abad usiaku telah kujalani. Al-Imam Ibnu Jauzi menyebutkan tentang pengertian pemuda; bahwa umur manusia dibagi menjadi 5 fase;
1.       Sejak hari kelahiran sampai usia baligh, berlangsung selama 15 tahun.
2.       Sejak usia baligh sampai akhir masa muda 35tahun. Fase yang disebut masa muda (as syabab)
3.       Dari akhir fase masa muda sampai 50 tahun dinamakan fase al kuhulah.
4.       Dari masa kuhulah sampai 70 tahun disebut as syaikukhan.
5.       Dari usia 70 tahun sampai tutup usia disebut fase alharim.
Pemuda masa nya berkarya, masanya menghadapi hawa nafsu dan syahwat terbesar. Menghiasi masa muda dengan tholabul ‘ilmi harus sudah menjadi kebutuhan. Jangan sampai menyesal! Sekarang, coba tanyakan kepada orang tua betapa pahit dan berat melalui masa-masa tua tanpa ilmu agama. Al-Amasy berkata; “jika engkau melihat orang tua tidak bisa membaca ALQur’an dan tidak dapat menulis hadits. Maka tamparlah dia! Sebab orang itu termasuk syuyukhul Qamara” . [1]Apa syuyukhul Qamara itu? Abu Ja’far Rohimahullah menjelaskan; “Mereka adalah orang2 tua yang menghabiskan waktunya dengan kumpul-kumpul dibawah sinar bulan ngobrol tentang hari-hari manusia tidak ada satu pun dari mereka ada yang wudu dengan baik untuk solat”. Dahulu Imam Syafi’I jika melihat orang tua bisa menjawab hadits dan fiqih. Beliau hanya diam saja. Jika ada orang tua yang ketika ditanya soal hadis dan fiqih tidak bisa menjawab. Beliau berkata; “Semoga Allah tidak memberikan balasan kebaikan kepada dirimu! Dari dirimu dan Islam. Sungguh engkau telah mensia-siakan dirimu dan Islam”   
#TetapSemangatMenuntutIlmu #BerkaryaLebihBaik
Write: Sya’ban 1437H


[1] Abu Nasim Muchtar, Pemuda di warna-warni Tholabul Ilmi